Semuanya berawal dari telepon tengah malam yang mengagetkan itu (udah biasa pak, disini emang gitu, kata salah satu teman saya enteng). Entah kenapa, akhir-akhir ini selalu saja saya yang menjadi obyek penderita jika ada tugas dinas keluar. Okelah kalau bapak pimpinan itu bilang saya masih single, belum punya tanggungan istri dan anak, masih muda dan enerjik, juga manutan (penurut, Ed. Yang ini maksa sih sebenarnya). Namun satu hal yang mereka mungkin belum tahu, bahwa saya sebenarnya juga suka traveling!

Benar, Kawan, saya berpetualang lagi untuk mencari (boleh juga diartikan menantang) sesuatu yang baru, dan meninggalkan segala kenyamanan yang ada. Tiga minggu yang lalu, kedua orang tua tercinta melepas kembali putra kesayangannya ini di sebuah stasiun kereta api. Dengan berbekal seadanya -sedikit pakaian tanpa peralatan make-up, berkas-berkas penugasan, gadget-gadget teman setia & tak lupa kartu sakti yang konon bernama ATM itu- saya berangkat ke Bandung (masih di seputaran Indonesia kok, hehe). Lumayan naik KA Eksekutif, karena memang ada yang menanggung semua biayanya (tentu saja negara dong, kalo kantong pribadi mah bisa tekor di jalan!).

Sesampainya di mBandung (Bandung, Ed., maklum lidah kami lebih suka mengatakan begitu, lebih mudah katanya. Sama dengan orang Sunda yang tidak suka dibilang kalau mereka tidak bisa menyebut huruf ‘F’. “Itu mah pitnah !” kata mereka membela :D ), saya ditampung oleh seorang teman. Alhamdulillah masih ada yang mau saya repotin, pikir saya (dan semoga Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu memudahkan kebutuhannya). Dua malam saya numpang di kostnya, akhirnya saya menemukan sepetak rumah kost di sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari tempat kost teman saya itu. Peran Allah juga terlihat disini, karena kost saya itu berada hanya beberapa meter dari masjid. Alhamdulillah. Saya masih bisa memenuhi panggilan-Nya untuk shalat berjamaah karena jaraknya yang dekat. Ternyata Dia Yang Maha Pengasih masih memelihara proses taubat saya (yang masih fluktuatif ini).

Hari pertama di tempat magang, saya dipertemukan dengan 13 rekan dosen lainnya yang berasal dari berbagai penjuru Nusantara! (hehe, sebenarnya cuma dari Madura, Surabaya, Jombang, Jogja, Kalimantan serta dua rekan dari Ambon dan Merauke saja ding). Dikenalkan dengan beliau, dua orang pembimbing friendly berstrata-tiga lulusan luar negeri juga membuat kami makin semangat dalam menjalaninya, selain institusi ini juga berkelas tentunya. Dan setelah acara perkenalan satu sama lain, orientasi kampus, serta pembahasan akomodasi (ini dia yang terkadang menyesakkan dada kami), akhirnya kami diberikan sebuah ruangan khusus sebagai posko kami selama lima bulan ke depan. Singkat cerita, aktivitas studi banding kami sebagai 14 makhluk ndeso yang membawa nama institusi daerah masing-masing telah dimulai (eh, jangan salah kawan, meski kami ndeso tapi kami sudah nguthani, apalagi nginteleki lho kalau kami memakai jaket berbordir ‘gajah bertapa’ pemberian beliau-beliau koordinator kami, hehe).

Nah, sekarang waktunya masalah demi masalah itu muncul (kata orang bijak, gak ada masalah gak asik! Bukankah hidup ini adalah sumber masalah? Maka mindset kitalah yang harusnya disetting untuk siap dalam menghadapi masalah, apapun itu! Kan ada Allah Yang Maha Penolong…). Mulai dari diimami secara lamaa sekali oleh orang yang agak ‘majnun’ di Masjid Salman hingga saya harus mengulang shalat saya, jatuh dari motor karena ditabrak orang yang melanggar traffic light di Simpang Dago (untung cuma luka ringan), jetlag yang berkepanjangan (morning sickness, flu, batuk, meriang, kedinginan, dan tentu saja, kangen rumah, hehe), kesasar di rimba belantara Bandung, shalat di mushola khusus wanita (kalau yang ini salah sendiri gak dipasang tulisan ‘khusus akhwat’!), disentimeni satpam penjaga parkir kampus, kesasar di rimba belantara Bandung lagi, sampai uang akomodasi yang menjadi hak kami tak kunjung juga cair (nah lho, menyesakkan dada bukan?).

Namun akhirnya, Dia Yang Maha Memberi memberikan apa yang selama ini kami minta (untuk yang poin terakhir, kawan). Alhamdulillah Jumat kemarin bekal hidup itu cair (apa kataku, hari Jumat memang ajaib!), meski hanya setengahnya saja. Itupun masih dipinjami dulu oleh pihak LAPI ITB, selaku koordinator program ini. Yang dari DIKTI mah belum juga cair euy! (teteup...). Mungkin karena itu pulalah akhirnya saya bersemangat kembali untuk meng-update blog ini setelah sebulan lebih terbengkalai. Lebai gak ya?

Hikmahnya, kawan, bersyukurlah atas apa yang terjadi sekarang ini, apapun yang terjadi, bahkan sabar bisa juga diubah menjadi syukur, karena engkau pasti akan berterima kasih atas apa yang telah terjadi akibat kesyukuranmu itu dulu… :)

Itu….. *sambil mengangkat telunjuk, pak Mario Teguh’s style*

5 Responses to “Goes to mBandung”

  1. Amel Says:

    pengen bangeet bs ngrasain dunia kampus lageee…. ga kerasa, sbulan lagee akan brada di dunia itu lagee.,..smoga Allah beri kita smua kemudahan kak,,, amiiin… smangaaaaaat :D

  2. si Dion Says:

    weiks, udah mulai ngajar lg yak?
    amiin… smoga dilancarkan dan dimudahkan utk kita
    nggambate ne..! :D

  3. The lady in RED Says:

    hai Mas ku….sukses yah di mBandung…..kangen ih…

  4. The lady in RED Says:

    Holla Mas ku. Sukses yah di mBandung…..kangen ih…

  5. Catra Says:

    waduh, mas dion ke bandung gak bilang2

Leave a Comment