Sudah beberapa hari ini ibu setengah baya itu selalu terlihat di lampu merah. Bersama anaknya yang masih dalam gendongannya, ia terpaksa turun ke jalanan untuk meminta sedekah ikhlas dari para pemakai jalan. Siang itu memang sangat terik ketika saya dalam perjalanan pulang setelah menjalani rutinitas harian. Ia hampiri satu persatu pengendara motor dan mobil tanpa menggunakan alas kaki. Bisa dibayangkan panasnya telapak kaki ibu itu. Ia hanya berharap ada orang yang memberinya kepingan uang kecil. Untuk membeli susu anaknya yang masih kecil, katanya.

Sebelumnya, di tempat lain. Kami –saya bersama teman-teman kantor- sedang membicarakan keberadaan orang-orang (maaf) ‘tangan dibawah’ itu. Entah darimana asal pembicaraan ini, tapi ternyata kami terlibat dalam sebuah obrolan yang hangat tentangnya. Dan memang, keberadaan komunitas itu sedikit banyak menimbulkan dilema bagi para pemakai jalan, terutama mereka yang terbiasa dengan ‘tangan diatas’nya. Satu sisi, komunitas itu bisa membantu kita dalam bersedekah, namun di sisi lain keberadaan mereka justru menimbulkan stigma negatif di mata masyarakat karena dianggap sebagai kaum pemalas.

Ketika orang menganggap pekerjaan komunitas itu bisa menjadi jalan baginya dalam bersedekah, maka orang tersebut tidak lagi memikirkan dampak dari sedekahnya itu. Bahkan tak jarang sebagian dari mereka akan berterima kasih karena pada komunitas tertentu akan membalas pemberian si ‘tangan diatas’ itu dengan sebuah doa kecil. Tetapi ketika mereka dipandang sebagai sekumpulan pemalas karena hanya bisa meminta-minta saja setiap harinya, maka orang-orang yang memandang demikian akan mencoba bertahan dengan tidak memberikan sedekah kepada mereka. Hal ini bisa dimengerti karena mungkin para ‘tangan diatas’ itu sudah mempunyai jalur sedekah sendiri seperti menjadi donatur tetap di sebuah panti asuhan, masjid, rumah zakat, para tetangga miskin dan sebagainya. Jadi, mereka lebih senang bersedekah melalui ‘jalur resmi’ tersebut daripada harus di jalanan yang mungkin malah akan mendukung keputusan para komunitas tersebut untuk menjadi seorang peminta-minta, bukan pekerja keras.

Dilema memang. Namun di akhir obrolan itu, salah satu dari kami memberikan tips jitu yang insya Allah berkah ketika kita menghadapi situasi semacam tadi diatas, yaitu ketika dihampiri oleh seorang peminta sedekah di lampu merah. Sederhana saja, katanya, pada saat dihampiri seorang peminta, ada atau tidak uang yang pantas diberikan kepada mereka? Kalau ada dan waktu untuk berhenti karena lampu merah menyala masih memungkinkan, ya berikan saja uang itu. Kalau tidak ada uang atau sikon untuk memberi tidak memungkinkan karena lampu merah sudah hampir hijau, maka tolak saja tangan menengadah mereka, tentu saja dengan sopan, lanjutnya. Sudah, titik. Jangan berpikir lagi dampaknya jika memberi atau merasa berdosa karena meninggalkan bergitu saja kesempatan untuk bersedekah. Niatkan karena Allah semata, tutupnya.

Berilah jika memungkinkan, tolaklah dengan sopan jika tidak memungkinkan untuk memberi. Sederhana bukan?

“Alangkah indah orang yang bersedekah, dekat dengan Allah dekat dengan surga” –Opick.

Selamat bersedekah, kawan.. :)

**Terima kasih Pak Amin, untuk teorinya. Gambar diambil dari sini

12 Responses to “Teori Sedekah Jalanan”

  1. hasna Says:

    Hm, dulu aku jg bingung dg masalah ky gini, apalagi di Jogja waktu itu mmg udah berhamburan komunitas tersebut dimana2. Jahatnya lagi, ada teman dekatku yang melihat dg mata kepala sendiri mereka ternyata ikut “sindikat” pengemis. Sebenarnya mereka kaya dan mampu tapi hanya malas dan akhirnya berpura2 kaki pincang atau buta dsb. Pernah juga teman yang ikut LSM ngasih bantuan modal ke mereka lgs utk mencari duit seperti becak, ibu2 dikasih mesin jahit beserta kursusnya dan anak2 disekolahin. Tapi yang ada, mereka malah jual becaknya, mesin jahitnya bahkan anak2nya ga mau sekolah lagi dan memilih mengemis. Ironis bukan? So, sebaiknya kl mmg pengen keadaan bs berubah lbh baik, kita sedekah dg ikhlas dan cara yang benar lewat yayasan dsb. Aku yakin, yayasan2 dsb itu sudah berusaha melakukannya dg cara yg benar:D. Bolehlah ngasih semampu kita lgs ke mereka asalkan kita yakin mreka bnr2 tidak mampu. Beribadah ikhlas dan niat utk Allah itu tidak cukup, krn aku yakin Allah juga suka orang2 yang cerdas seperti halnya anjuran kita beribadah sesuai sunnah Nabi. Wallahu alam

  2. si Dion Says:

    beruntunglah bagi mereka yg udah tau kalo yg dihadapinya adalah pengemis palsu. mereka bisa langsung memutuskan utk tidak memberinya. saya jg ga suka sama model2 nyamar kyk itu bu’. itu yg disebut komunitas pemalas sungguhan.
    nah, kalo yg ga tau sama skali, pasti bingung antara positip atau negatip thinking. maka teori diatas mungkin bisa jd referensi. memang sih, bersedekah di jalur yayasan dsb dan juga di jalanan, jika keduanya dilakukan secara konsisten meskipun sedikit akan lebih baik.

  3. 1nd1r4 Says:

    kita tak tau mereka mengemis karena malas atau memang ta ada lagi yg bisa dikerjakan. Untuk saya lebih baik berpikir positif saja, dan teori di atas sudah saya terapkan sejak lama. Namun yang sering membuat saya miris dan sekaligus kesal adalah ibu2 yang duduk manis dibawah pohon atau di tempat teduh sambil menyeruput es dalam plastik dan anaknya yang masih kecil, bertelanjang kaki dan tanpa pelindung kepala dari teriknya matahri dibiarkan ‘menadahkan tangan” . Yang lebih parahnya lagi si ibu memarahi anaknya yg menolak mengemis karena kakinya kepanasan….

  4. si Dion Says:

    1nd1r4. Betul mbak, berpikir positip adalah segalanya. pasti ga akan sia-sia kok apa yg sudah kita putuskan dalam pikiran positip kita. Sipdeh kalo udah diterapkan sejak lama, smoga saya juga bisa konsisten dalam menerapkannya.
    kalo ada ibu-ibu seperti yg mbak In liat, itu yg disebut eksploitasi anak ya mbak. kalo saya melihat yg seperti itu pasti saya juga akan merasa kesal..

  5. Catra Says:

    Terkadang mereka diorganisir oleh pihak-pihak tertentu bro… Saya pernah menawarkan seorang pengemis kecil makan. Tapi mereka nggak mau. Dia hanya minta uang. Aneh bukan?

  6. marshmallow Says:

    wah, kalau menyangkut gepeng ini aku susah memberikan pendapat, sebab rasanya kontekstual sekali. seringkali dalam memutuskan untuk membantu, aku ikut kata hatiku saja: merasakan simpati atau tidak? bukan untuk pembenaran sih, yon, tapi masyarakat kita (termasuk aku) sudah memiliki sugesti sendiri mengenai mereka, sebut saja mulai dari cap pemalas hingga sindikasi. walaupun hanya sebagai filantropi, aku tetap memilih melakukannya dengan baik di jalur yang tepat.

  7. si Dion Says:

    Catra. iya bro, itu yg ada di lapangan, udah ada sindikatnya. nah, yg kayak2 gitulah yg bisa merusak niat kita untuk memberi..
    Uni Mallow. iya uni, bersedekah di jalur yg tepat memang pilihan yg tepat pula. sehingga kita bisa tenang & yakin kalau filantropi kita tepat sasaran.

  8. angus Says:

    tips dari saya,.
    berikan permen saja gan,.. :D:D:D

  9. Uchan Says:

    Walah bro, saya pernah liat ibu2 yg lagi minta2 nyubitin anak yg digendongan dia supaya nangis (sambil pura2 megangin). Belum lagi yg didrop pake truk, astaga ckckck

    tapi teori di atas bisa aja, kalo memang ada receh sisa parkiran di saku jaket (gampang diambil)

  10. si Dion Says:

    angus. tips yg boljug (boleh juga) gan
    tapi kalo permennya ada :D

    Uchan. walah, kasian banget anaknya yak, sungguh teganya..
    yupe, asal memungkinkan siy kasih aja, kalo ada jg mempersulit diri, tar diklaksonin sm pemakai jalan lain (kalo di lampu merah)

  11. Ryan Says:

    Wah ternyata sedekah kita sering salah sasaran yah .. kasihan banget tuh yg benar benar membutuhkan malah gak kebagian..

  12. si Dion Says:

    Ryan. kadang begitu bro.. iya, kasian..

Leave a Comment