Let me yell it before: Pffuaaaah.. senangnya.. akhirnya saya baru bisa nonton film Laskar Pelangi juga…!!
Sabtu siang kemarin, tanpa ditemani siapa-siapa, saya menontonnya di bioskop baru di kota kecil ini. Bioskop yang baru beroperasi sekitar dua minggu ini sudah menayangkan Laskar Pelangi sejak grand opening-nya. Saya termasuk orang yang tidak suka nonton bioskop. Namun untuk film yang satu ini, saya bela-belain pergi karena versi DVD yang tak kunjung ada juga.
Perasaan saya seketika membuncah ketika film garapan Riri Riza ini mulai. Seperti seorang sok tau saja, saat itu saya sudah bisa menebak betapa bagusnya film ini. Namun yang terjadi ternyata lain, pada awal-awal film diputar. Suara film ini agak jelek, seperti pita kaset yang rusak. Tapi ternyata ketidak nyamanan ini terjadi pada awal-awal film saja. Untuk seterusnya kualitas suara kembali normal. Batin ini pun kembali bersorak bingar bak menanti sang idolanya beraksi.
Ah, sepertinya tidak perlu saya ceritakan bagaimana cerita dari film ini. Layaknya sebuah novel yang difilmkan, tentu saja terjadi pergeseran cerita di sana-sini dari novel fenomenalnya. Namun itu semua tidak mengganggu alur dari ceritanya. Sesekali saya juga masih bisa tersenyum, tertawa lebar, dan menangis ketika menikmatinya: hal yang sama terjadi ketika membaca novelnya dulu. Saya juga masih bisa terinspirasi dan optimis akan mimpi-mimpi saya.
Samson, Harun, Kucai, Lintang, Ikal, Sahara, A Kiong, Mahar, Trapani, dan Syahdan beraksi dengan baik. Hanya saja Trapani dan Syahdan mendapat porsi akting yang sedikit dibanding yang lain. A Ling, walaupun terlihat absurb namun itulah cinta pertama Ikal. Pantas saja Ikal mencarinya hingga ujung benua. Pak Harfan dan Bu Muslimah mengambil peran yang sangat penting dalam menginspirasi. Kata-kata Pak Harfan dalam menasehati kesepuluh muridnya sangatlah menyejukkan. Sampai kepindahan Flo dari SD PN juga tergambar baik di film ini. Pun dengan bangunan SD Muhammadiyah Gantong, tempat Laskar Pelangi belajar juga digambarkan sempurna dengan segala kereyotannya dan keterbatasannya. Lagu ‘Sahabat Kecil’ yang dinyanyikan Ipang di sela-sela mereka bermain ikut menambah indahnya kenangan persahabatan di masa kecil. Saya terbuai menikmatinya.
Untuk Lintang & Mahar, Gue suka gaya loe!
Mungkin hanya adegan karnaval saja yang saya kurang puas melihatnya. Bab 19: “Sebuah Kejahatan Terencana” yang berisi cerita ini di novelnya menurut saya kurang greget di filmnya. Ketika Societeit de Limpai pimpinan Mahar dan Flo bertemu dengan Tuk Bayan Tula di pulau Lanun juga tersurat secara singkat. Dan Lukman Sardi, pemeran Ikal dewasa itu, menurut saya lebih bagus lagi untuk mengikalkan rambutnya dulu agar mirip dengan Ikal.
Lintang, si jenius kecil itu, masih saja membuat saya sakit hati. Ketika SD Muhammadiyah ikut lomba kecerdasan di kota, Lintang tampil sangat memukau. Benar-benar menggambarkan kejeniusannya dalam berhitung. Puncak kecemerlangan Lintang tertumpahkan pada dramatisasi kesalahan sang juri dalam menghitung soal untuk peserta, pada soal terakhir yang diberikan. Sang juri akhirnya mengakui kesalahannya ketika Lintang menjelaskan jawabannya dengan suatu perhitungan yang cantik di papan tulis. Sontak penonton bersorak. Bu Mus juga terlihat menangis terharu. Begitu pun dengan saya, namun tidak untuk terharu air mata ini keluar. Melainkan sedih tak terkira karena sudah mengetahui terlebih dulu apa yang terjadi kepada Lintang setelah ini. Betul katamu kawan, Lintang benar-benar berhenti sekolah. Membekukan seluruh kejeniusannya. Menyingsingkan lengan bajunya untuk kembali mencari nafkah keluarga. Elvis Has Left the Building…. (cengengnya kumat)
Dan ketika ditanya bagian mana yang terbaik menurutku, maka saya jawab: Semua! Hehe, semoga bukan cinta buta saya kepada film ini. Mungkin hanya penyakit gila no.71 saya saja yang lagi kambuh: Mabok Kepayang gara-gara Laskar Pelangi.






January 11th, 2009 at 10:19 pm
hikz… berarti tinggal sayah yang belom nonton..
tapi maryamah karpov udah sampe di tangan sayah nih bang dion..
akhirnyah..akhirnyah..
January 12th, 2009 at 12:28 am
salam kenal jg dion..
aku malah meskipun filmnya dah lewat.. dah ga’ maen lg di jkt..
blm liaat jg..
hehehe
January 12th, 2009 at 6:04 am
ayo milki CDdan DVD nya…
January 12th, 2009 at 6:24 am
Wa….jadi ngiri. Aku belom nonton pilemnya
Bajakannya jelek banget (hehe…ketahuan suka beli pilem bajakan). Nunggu original vcd-nya aja di ultradisc (abis di kota-ku gak ada toko kaset original, hiks…)
January 12th, 2009 at 7:47 am
wa… saya belum nonton nih pak Dion. di Jogja dah gak diputar lagi. telat saya.
tapi tak mengapa. biar sosok kesepuluh laskar pelangi dan tokoh-tokoh lainnya, menurut apa yg saya deskripsikan di kepala saya sendiri.
bu muslimah, bukan tergambar seperti cut mini, melainkan apa yg tergambar di kepala saya sendiri.
*sebuah pledoi karena blom nonton pilemnya* hehehe….
January 12th, 2009 at 6:01 pm
bang medhian. hee, gpp bang sambil nunggu DVDnya. yang penting maryamah karpov sudah digenggam tangan..
Brencia. untungnya disini pilemnya blm lewat buk, jd bisa nonton deh, hehe
imoe. ayoo! utk melengkapi koleksi
Fumiki Deguchi. lhah, ngiri lagii
wah, bisa lama ituh..
yodama. seperti yang dikatakan Ikal, penggemar berat Laskar Pelangi pasti punya film sendiri di kepalanya. tp menurut saya, filmnya sendiri tidak mengecewakan kok, masih bagus..
senang kita bisa bertemu lagi, pak
January 13th, 2009 at 5:57 am
Komentar orang pasti banyak yang bilang telat banget, tapi jujur saya sendiri juga belum nonton nih
uhuk uhuk
January 13th, 2009 at 6:06 am
Lum nonton juga :D,
January 13th, 2009 at 3:07 pm
saya sudah membaca novelnya mas, tapi belum menonton filmnya. maklum, pekalongan tak punya bioskop. dulu ada, tapi bangkrut.
ada nggak ya versi cd/dvd?
January 13th, 2009 at 3:32 pm
sama mas, keren bgt tu film
January 13th, 2009 at 6:04 pm
Uchan & Cak Win. hohoho.. ternyata masih ada tho yg belum nonton
Pak Zulmasri. untungnya di Madiun baru buka bioskopnya pak, jd bisa nonton. kayanya masih blm ada je pak
fachri. sepakat!
January 14th, 2009 at 1:55 am
Aa onyon ekew mampir yeuh.. tp sebenarnya bukan ingin tewu bot LP, melainkan ingin tahu pengalaman dirimu ke bioskopnya !?!
Nampaknya sobatku ini memang menderita obsesif kompulsif LP, seperti halnya sang Jimbron pada sang kudah..ter-la-luh…
ehm.. tp ko bagian RAMBUT si ikal vs minyak thanco gk ada seh ???
January 14th, 2009 at 3:56 pm
saya…
saya sudah 2x e kak nontonnya
, jyahahaaha :))
January 14th, 2009 at 10:23 pm
neng cantik. eh, aya si eneng.. bioskop? ah, tidak lebih nyaman dari nonton sendiri di rumah tem, bisa sambil ketiduran
rambutnya si Ikal mah tetep we amboi! *protes mulu!
Amel. whe e e, saya belum yg kedua kalinyah sis..
January 15th, 2009 at 2:49 am
Aku belum nonton… mau…
January 17th, 2009 at 1:03 am
wuiiih LP yaw..
nunggu DVD nya aja aku hehe
*artina blm nntn jg.. hikz
lam kenal ya
January 18th, 2009 at 6:07 pm
Bayu. Yuk, nonton lagi, aku juga mau..
inge. saya juga lagi nunggu DVDnya buat koleksi
salam kenal juga.
January 21st, 2009 at 7:40 am
Saya juga udah nonton beberapa bulan yang lalu.
February 1st, 2009 at 7:07 am
Salam…
Numpang nimbrung ya…kebetulan saya lihat webnya di milis formasi..so..webnya bagus. keep update every day.Forever.!!
Wah..Alhamdulillah kalo udah pada nonton…mg dpt jd inspirasi,,kayak penulisnya.