<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>The D.I.O.N</title>
	<atom:link href="http://thedion.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thedion.com</link>
	<description>Man Jadda Wajada</description>
	<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 23:04:28 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Walimatul &#8216;Ursy Dion</title>
		<link>http://thedion.com/?p=312</link>
		<comments>http://thedion.com/?p=312#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 06:13:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>si Dion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thedion.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Dan begitulah.. sekali lagi Allah menunjukkan kuasanya. Doa teman-teman semua, semoga acara kami dimudahkan, dilancarkan dan diberkahkan. Juga semoga kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah nan penuh berkah dalam sebuah perjanjian yang berat, mitsaqan ghalizan ini. Amiin..



 
 

Biar agak sedikit mempunyai manfaat, ada bonus blocknote sederhana di dalamnya. Semoga tidak sekali baca langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dan begitulah.. sekali lagi Allah menunjukkan kuasanya. Doa teman-teman semua, semoga acara kami dimudahkan, dilancarkan dan diberkahkan. Juga semoga kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah nan penuh berkah dalam sebuah perjanjian yang berat, <em>mitsaqan ghalizan</em> ini. Amiin..</p>
<p><a href="http://thedion.com/wp-content/uploads/2010/03/un11.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-321" title="Undangan 1" src="http://thedion.com/wp-content/uploads/2010/03/un11-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a></p>
<p><span id="more-312"></span></p>
<p><a href="http://thedion.com/wp-content/uploads/2010/03/un21.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-320" title="Undangan 2" src="http://thedion.com/wp-content/uploads/2010/03/un21-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://thedion.com/wp-content/uploads/2010/03/un31.jpg"> <img class="alignnone size-medium wp-image-319" title="Undangan 3" src="http://thedion.com/wp-content/uploads/2010/03/un31-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://thedion.com/wp-content/uploads/2010/03/un61.jpg"> <img class="alignnone size-medium wp-image-318" title="Undangan 6" src="http://thedion.com/wp-content/uploads/2010/03/un61-221x300.jpg" alt="" width="221" height="300" /></a></p>
<p style="text-align: left;"><img class="size-medium wp-image-316 alignnone" style="margin-left: 1px;" title="Undangan 4" src="http://thedion.com/wp-content/uploads/2010/03/un4-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></p>
<p style="text-align: left;">Biar agak sedikit mempunyai manfaat, ada bonus blocknote sederhana di dalamnya. Semoga tidak sekali baca langsung dibuang (mengingat undangannya yang sederhana, hehe).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thedion.com/?feed=rss2&amp;p=312</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Syarat untuk Bermaksiat</title>
		<link>http://thedion.com/?p=286</link>
		<comments>http://thedion.com/?p=286#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 03:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>si Dion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<category><![CDATA[Qolbutheraphy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thedion.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[
Suatu saat, seorang ahli hikmah, Ibrahim bin Adham didatangi oleh orang yang mengaku ahli maksiat. Ia mengutarakan niatnya untuk keluar dari kubangan dunia hitam.
Ibrahim bin Adham memberikan nasihatnya, seraya berkata, &#8220;Jika ingin menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka tak mengapa kamu meneruskan kesukaanmu berbuat maksiat.&#8221;
Mendengar perkataan Ibrahim, ahli maksiat dengan penasaran bertanya, &#8220;Ya Abu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-655" style="margin-left: 5px; margin-left: 5px; float: left" title="bersimpuh" src="http://thedion.com/wp-content/uploads/2009/12/sujud-ibu.jpg" alt="" width="231" height="155" /></p>
<p style="text-align: justify;">Suatu saat, seorang ahli hikmah, Ibrahim bin Adham didatangi oleh orang yang mengaku ahli maksiat. Ia mengutarakan niatnya untuk keluar dari kubangan dunia hitam.</p>
<p>Ibrahim bin Adham memberikan nasihatnya, seraya berkata, &#8220;Jika ingin menerima lima syarat dan mampu melaksanakannya, maka tak mengapa kamu meneruskan kesukaanmu berbuat maksiat.&#8221;</p>
<p>Mendengar perkataan Ibrahim, ahli maksiat dengan penasaran bertanya, &#8220;Ya Abu Ishaq (panggilan Ibrahim bin Adham), apa syarat-syaratnya?&#8221;</p>
<p>Ibrahim bin Adham berkata, &#8220;<strong>Pertama</strong>, jika ingin melakukan maksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan rizki-Nya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu aku harus makan dari mana? Bukankah semua yang ada di bumi ini rizki Allah?&#8221; kata sang ahli maksiat keheranan.<br />
<span id="more-286"></span><br />
Ibrahim bin Adham berkata lagi, &#8220;Ya, kalau sudah menyadarinya, masih pantaskah kamu memakan rizki-Nya, sedangkan kamu melanggar perintah-pertintah-Nya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kemudian syarat yang <strong>kedua</strong>, kalau ingin bermaksiat kepada-Nya, maka janganlah kamu tinggal di bumi-Nya. &#8221;</p>
<p>Ya Abu Ishaq, kalau demikian, aku akan tinggal di mana? Bukankah semua bumi dan isinya ini kepunyaan Allah?&#8221; kata lelaki itu.</p>
<p>&#8220;Ya Abdullah, renungkanlah olehmu, apakah masih pantas memakan rizki-Nya, sedangkan kamu masih hendak melanggar perintah-Nya?&#8221; kata Ibrahim.</p>
<p>&#8220;Ya benar, &#8221; kata lelaki itu tertunduk malu.</p>
<p>Ibrahim bin Adham kembali berkata, &#8220;Syarat <strong>ketiga</strong>, kalau ingin juga bermaksiat, mau makan rizki-Nya, mau tinggal di bumi-Nya, maka carilah suatu tempat yang tersembunyi dan tidak dapat dilihat-Nya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Abu Ishaq, mana mungkin Allah tidak melihat kita?&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sang ahli maksiat itu pun terdiam merenungkan petuah-petuah Ibrahim. Lalu ia kembali bertanya, &#8220;Ya Abu Ishaq, kini apa lagi syarat yang <strong>keempat</strong>?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau malaikat maut datang hendak mencabut ruhmu, katakanlah, &#8220;Undurkanlah kematianku. Aku ingin bertaubat dan melakukan amal sholeh.&#8221; kata Ibrahim.</p>
<p>&#8220;Ya Abu Ishaq, mana mungkin malaikat maut mau mengabulkan permintaanku itu.&#8221; jawab lelaki itu.</p>
<p>&#8220;Baiklah ya Abu Ishaq, sekarang sebutkan apa syarat yang <strong>kelima</strong>?&#8221; tanyanya lagi.</p>
<p>&#8220;Kalau malaikat Zabaniyah hendak membawamu ke neraka di hari kiamat, janganlah engkau mau ikut bersamanya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya Abu Ishaq, jelas saja mereka (malaikat Zabaniyah) tidak akan mungkin membiarkan aku menolak kehendak-Nya.&#8221; ujar lelaki itu.</p>
<p>&#8220;Kalau demikian, jalan apa lagi yang dapat menyelamatkanmu ya Abdullah?&#8221; tanya Ibrahim bin Adham.</p>
<p>&#8220;Ya abu Ishaq, cukuplah! Cukup! Jangan engkau teruskan lagi, mulai detik ini aku mau beristighfar dan mohon ampun kepada Allah. Aku benar-benar ingin bertaubat.&#8221; ujar lelaki itu sambil menangis penuh.</p>
<p><em>[dikutip dari Message FB Rumah Yatim Indonesia. Gambar diambil dari <a href="http://ichwankalimasada.files.wordpress.com/2009/10/sujud-ibu.jpg?w=300&amp;h=202">sini</a>]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thedion.com/?feed=rss2&amp;p=286</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Merantaulah</title>
		<link>http://thedion.com/?p=277</link>
		<comments>http://thedion.com/?p=277#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 00:48:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>si Dion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<category><![CDATA[University of Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thedion.com/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-655" style="margin-left: 5px; margin-left: 5px; float: left" title="safar" src="http://thedion.com/wp-content/uploads/2009/12/backpacker.jpg" alt="" width="170" height="178" /><span style="color: #008000;">Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman<br />
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang<br />
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan<br />
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang</span></p>
<p><span style="color: #008000;">Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan<br />
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang</span></p>
<p><span style="color: #008000;">Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa<br />
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran</span></p>
<p><span style="color: #008000;">Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam<br />
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang</span></p>
<p><span style="color: #008000;">Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang<br />
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa<br />
Jika di dalam hutan</span></p>
<p><em>(Imam Syafii, dikutip dari buku ‘Negeri 5 Menara’)</em></p>
<p><em></em><span id="more-277"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #008000;">&#8220;Bersafarlah, sesungguhnya dalam safar itu ada lima keuntungan, yaitu: menghibur diri dari kesedihan, mencari hasil usaha (mata pencaharian), memperoleh tembahan ilmu, lebih banyak mengenal adab kesopanan, dan menambah kawan yang baik (mulia).&#8221;</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span><em>(H.R. Bukhari, dikutip dari buku The Journal of Muslim Traveler)</em></span></p>
<p>* * *</p>
<p style="text-align: justify;">Wuih, sudah lama juga tidak posting di blog ini. Padahal kontrak domain &amp; hostingnya sudah diperpanjang beberapa bulan yang lalu. Sebenarnya ada banyak ide yang masuk ke kepala dan hati ini, tapi begitulah.. selalu kalah dengan rutinitas yang ada <span style="text-decoration: line-through;">dan juga jejaring ‘buku-wajah’ yang fenomenal itu</span>. Sampai akhirnya aku menemukan secuplik kata-kata indah dari seorang ulama diatas, yang juga menghembuskan semangat baru lagi untuk menguatkan niatan yang sudah lama terpendam, meninggalkan zona nyaman untuk kembali hijrah suatu saat nanti, insya Allah. Semoga Allah yang rencananya sungguh-sunguh maha indah sepanjang waktu memberikan jalan terbaik-Nya kepadaku.<br />
Semoga untukmu juga, kawan. Amin.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>[gambar diambil dari <a href="http://www.surya.co.id/wp-content/uploads/2009/01/backpacker.jpg">sini</a>]</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thedion.com/?feed=rss2&amp;p=277</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kala Ramadhan Tiba..</title>
		<link>http://thedion.com/?p=271</link>
		<comments>http://thedion.com/?p=271#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Aug 2009 06:55:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>si Dion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aku]]></category>

		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<category><![CDATA[Qolbutheraphy]]></category>

		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thedion.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[
Telah datang kembali bulan yang dinanti. Satu bulan yang sangat istimewa bagi kami, ummat nabi Muhammad SAW. Keberkahan demi keberkahan muncul setiap hari seakan menjadi konsumsi rutin di bulan suci ini. Mulai sahur hingga waktu berbuka menjelang, rasanya hati ini senantiasa terjaga jika dibandingkan dengan hari-hari biasa di luar bulan Ramadhan. Juga kebersahajaan dari masyarakat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-272" title="ramadhan" src="http://thedion.com/wp-content/uploads/2009/08/ramadhan.jpg" alt="" width="397" height="141" /><br />
Telah datang kembali bulan yang dinanti. Satu bulan yang sangat istimewa bagi kami, ummat nabi Muhammad SAW. Keberkahan demi keberkahan muncul setiap hari seakan menjadi konsumsi rutin di bulan suci ini. Mulai sahur hingga waktu berbuka menjelang, rasanya hati ini senantiasa terjaga jika dibandingkan dengan hari-hari biasa di luar bulan Ramadhan. Juga kebersahajaan dari masyarakat yang menjalani (maupun yang tidak menjalani) ibadah wajib puasa di bulan ini pun turut mewarnai indahnya Ramadhan. Suasana yang ada juga ikut berperan. Toleransi yang kuat oleh saudara lain yang tidak menjalani juga kian terasa. Banyak toko makanan tutup atau memberlakukan sebuah perlakuan khusus kepada konsumennya di siang hari. Di malam harinya, banyak warga yang mendapatkan berkah melalui usaha mereka. Mulai dari ‘pasar kaget’ Ramadhan hingga paket-paket yang menarik untuk berbuka puasa di beberapa sudut rumah makan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span id="more-271"></span>Ramadhan juga identik dengan momen sillaturahim. Bayangkan, berapa banyak SMS ucapan terkirim dan diterima dari satu <em>ponsel</em> ke <em>ponsel</em> lain, di <em>Mailing List</em>, bahkan di <em>Facebook</em>, situs jejaring sosial yang banyak digandrungi manusia bumi akhir-akhir ini. Dari mulai rekan seprofesi yang setiap hari bertemu hingga saudara jauh atau teman yang sudah lama tidak bertutur kabar. Ini seakan menjadi semangat tersendiri untuk menjalani ibadah <em>shaum</em> untuk satu bulan lamanya. Acara berkumpul juga sering sekali diadakan oleh banyak komunitas. Entah itu berkumpul untuk buka bersama, melakukan bakti sosial, acara pengajian, pesantren kilat, ataupun sahur bersama. Untuk acara buka bersama, mungkin telah menjadi acara yang wajib diadakan di bulan Ramadhan ini. Maka tak heran jika dalam satu bulan penuh Ramadhan, bisa jadi berulang kali melakukan kegiatan tersebut ke berbagai tempat dan komunitas. Seiring dengan itu, menjadi harapan juga untuk semakin mengeratkan persaudaraan yang telah ada.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em>Ah</em>, Ramadhan memang sudah menjadi kebahagiaan dan keberkahan tersendiri bagi siapa saja itu, baik yang menjalani maupun yg tidak menjalaninya. Banyak pihak yang diuntungkan dengan datangnya bulan ini. Ramadhan memang penuh berkah. Ada limpahan ampunan dan rahmat yang mengalir bagi siapa saja yang berhasil mendapatkan kenikmatan dalam menjalani ibadah-ibadah di dalamnya. Belum lagi semangat untuk bertadarus dan melakukan <em>qiyamul lail</em> di malam harinya. Mendengarkan seorang yang sedang <em>tilawah</em> saja sudah menjadi pahala. Bahkan, membahagiakan hati dalam menyambutnya juga sudah menjadi suatu kebaikan tersendiri.  Dan Allah SWT pasti akan membahagiakan siapa saja yang bahagia di bulan suci itu. Itu janji-Nya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Maka itu, kawan, jangan sampai kita menyia-nyiakan satu bulan Ramadhan ini dengan sesuatu yang tidak berguna. Sayang sekali jika hal itu terjadi, lebih-lebih kalau kita sendiri sudah meniatkannya baik sadar maupun tidak. Hati kita harus mendapatkan nutrisi yang banyak di bulan ini. Bulan ini harus bisa menjadi bulan ‘pelatihan’ bagi jasmani dan rohani kita. Syukur-syukur bisa mentargetkan sesuatu yang baik di bulan ini, seperti yang ditargetkan salah satu teman saya untuk bisa menambah hafalan surat dan memperoleh suatu posisi yang diidam-idamkan di perusahaan tempat dia bekerja. Hal ini mengingatkan saya, ketika untuk pertama kalinya saya diamanahkan mata pencaharian ini tepat pada bulan Ramadhan tahun lalu. AlhamduliLlah. Semoga berkah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Akhirnya dengan segenap kerendahan hati, saya dan seluruh keluarga mengucapkan selamat membahagiakan hati dalam menyambut bulan Ramadhan. Semoga kita semua diberikan kekuatan, kekhusyu’an dan kelancaran dalam menjalaninya sehingga imbalan berkah senantiasa kita terima dari Allah, Sang Penguasa Alam Semesta ini. Mohon maaf untuk segala kesalahan dan kekhilafan saya dan atas apa yang pernah saya tulis di media blog ini. <em>‘Afwan</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Marhaban Yaa Ramadhan, Marhaban Yaa Kariim..</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thedion.com/?feed=rss2&amp;p=271</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Manusia Muslim Abad 21</title>
		<link>http://thedion.com/?p=266</link>
		<comments>http://thedion.com/?p=266#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 01:07:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>si Dion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<category><![CDATA[Qolbutheraphy]]></category>

		<category><![CDATA[afiliasi]]></category>

		<category><![CDATA[Anis Matta]]></category>

		<category><![CDATA[kontribusi]]></category>

		<category><![CDATA[Manusia muslim abad 21]]></category>

		<category><![CDATA[partisipasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thedion.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Menarik, ketika saya menemukan tulisan ini pada buku Model Manusia Muslim Abad XXI karya Ust. M. Anis Matta. Dan sepertinya sayang jika tidak saya bagi disini untuk bisa diseksamai oleh kita semua:
* * * * * * *
Berikut ini adalah kualifikasi manusia muslim yang dirancang untuk mengemban misi peradaban Islam. Setiap orang harus melalui tiga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-676" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px; float: left" title="formasikcl" src="http://thedion.com/wp-content/uploads/2009/07/model-manusia-muslim.jpg" alt="" width="71" height="93" />Menarik, ketika saya menemukan tulisan ini pada buku Model Manusia Muslim Abad XXI karya Ust. M. Anis Matta. Dan sepertinya sayang jika tidak saya bagi disini untuk bisa diseksamai oleh kita semua:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;">* * * * * * *</span></p>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini adalah kualifikasi manusia muslim yang dirancang untuk mengemban misi peradaban Islam. Setiap orang harus melalui tiga tangga untuk mengaktualisasikan Islam dalam berbagai dimensi kehidupan kita.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #003366;"><strong>1. AFILIASI</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Afiliasi adalah memahami dengan baik alasan kita memilih Islam sebagai agama dan jalan hidup. Di sini, kita memasuki sesuatu dan ada kecenderungan terhadap sesuatu, yaitu wilayah nilai Islam. Proses tersebut melahirkan tiga komitmen:<span id="more-266"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>a. Komitmen akidah/ideologi Islam</strong><br />
Kita memahami satuan-satuan ajaran Islam sebagai sistem dan tatanan kehidupan sehingga mampu membaca dan memahami berbagai peristiwa dan masalah kehidupan dalam kaca mata Islam. Hal ini membentuk cara kita merasa.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>b. Komitmen metodologi/syariah</strong><br />
Kita menjadikan Islam sebagai akhlak dan perilaku sehari-hari sebagai pribadi, keluarga, masyarakat dan pekerja. Di sini, satuan-satuan kebenaran yang sudah kita yakini dan pahami betul-betul tergambar secara menyeluruh. Hal ini membentuk cara kita berpikir.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>c. Komitmen sikap/akhlak</strong><br />
Inilah tahap iman dan amal saleh. Satuan-satuan kebenaran yang sudah kita yakini dan pahami itu dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Ini merupakan penjelmaan dari apa yang kita pikirkan dan rasakan. Hal ini membentuk cara kita bersikap/berakhlak.</p>
<p style="text-align: justify;">Tahap afiliasi merupakan tahap diri kita untuk <span style="color: #008000;"><strong>menjadi saleh secara pribadi</strong></span>.</p>
<p><span style="color: #003366;"><strong>2. PARTISIPASI</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Disini, kita mendistribusikan kesalehan pribadi kepada orang lain agar terjadi kesalehan secara sosial. Namun, partisipasi yang kita inginkan haruslah partisipasi integral yang mengakar pada emosi kita. Oleh karena itu beberapa hal yang perlu kita miliki dalam tahap partisipasi ini, yaitu sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>a. <em>Sense-in-group</em></strong><br />
Yaitu keterlibatan dengan kaum muslimin, merasa bagian dari kaum muslimin yang membentuk <em>ukhuwah</em> dan <em>ruhama </em>(orang-orang yang saling menyayangi) dan memiliki rasa keprihatinan yang tinggi terhadap masalah-masalah kaum muslimin. Disini kaum muslimi mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap saudaranya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>b. Memiliki sejumlah pengetahuan sosial humaniora yang dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat</strong><br />
Tujuannya adalah agar keterlibatan kita dilakukan secara sadar, terarah, dan dewasa. Salah satu ilmu tersebut yang saait ini amat penting untuk dikuasai adalah pengetahuan cara berkomunikasi. Kata Imam Bukhari, <em>“Berilmulah sebelum beramal!”</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>c. Mengetahui dan menguasai peta dan medan lingkungan sosial budaya tempat kita hidup</strong><br />
Tujuannya adalah agar kita tahu cara memasuki dan mengubah masyarakat kita ke arah Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sini <span style="color: #008000;"><strong>kita menjadi dai</strong></span>.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #003366;"><strong>3. KONTRIBUSI</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kontribusi adalah kita harus memilih satu bidang spesialisasi ilmu atau profesi yang kita yakini dapat menjadi <em>expert </em>dan unggul. Kita tidak akan menjadi segalanya dan tidak akan pernah sanggup melakukan segalanya. Kemampuan kita terbatas. Oleh karena itu, sebagai kontributor, kita haruslah mengetahui di mana titik kekuatan kita. Kemudian berikan karya terbaik kita kepada Islam sebagai persembahan yang setulus-tulusnya kepada Islam dan umatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hal ini diusulkan empat bidang kontribusi berikut ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>a. Bidang pemikiran/ilmiah (pemikir/ilmuwan)<br />
b. Kepemimpinan<br />
c. Profesional/profesi<br />
d. Finansial</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di sini <span style="color: #008000;"><strong>kita menjadi mujahid</strong></span>.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;">* * * * * * *</span></p>
<p style="text-align: justify;">Nah, kawan, menjadi saleh pribadi, menjadi dai, kemudian kita menjadi mujahid, itulah intinya jika kita ingin digolongkan sebagai pribadi muslim yang berkualitas di abad ini. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua.<br />
Kita sama-sama berjuang yaa.. <img src='http://thedion.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thedion.com/?feed=rss2&amp;p=266</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Goes to mBandung</title>
		<link>http://thedion.com/?p=260</link>
		<comments>http://thedion.com/?p=260#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 12:40:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>si Dion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aku]]></category>

		<category><![CDATA[University of Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thedion.com/?p=260</guid>
		<description><![CDATA[Semuanya berawal dari telepon tengah malam yang mengagetkan itu (udah biasa pak, disini emang gitu, kata salah satu teman saya enteng). Entah kenapa, akhir-akhir ini selalu saja saya yang menjadi obyek penderita jika ada tugas dinas keluar. Okelah kalau bapak pimpinan itu bilang saya masih single, belum punya tanggungan istri dan anak, masih muda dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-655" style="margin-left: 5px; margin-left: 5px; float: left" title="bdg" src="http://thedion.com/wp-content/uploads/2009/06/bdg.jpg" alt="" width="228" height="183" />Semuanya berawal dari telepon tengah malam yang mengagetkan itu (<em>udah biasa pak, disini emang gitu</em>, kata salah satu teman saya enteng). Entah kenapa, akhir-akhir ini selalu saja saya yang menjadi obyek penderita jika ada tugas dinas keluar. Okelah kalau bapak pimpinan itu bilang saya masih single, belum punya tanggungan istri dan anak, masih muda dan enerjik, juga <em>manutan </em>(penurut, Ed. Yang ini maksa sih sebenarnya). Namun satu hal yang mereka mungkin belum tahu, bahwa saya sebenarnya juga suka <em>traveling</em>!</p>
<p style="text-align: justify;">Benar, Kawan, saya berpetualang lagi untuk mencari (boleh juga diartikan menantang) sesuatu yang baru, dan meninggalkan segala kenyamanan yang ada. Tiga minggu yang lalu, kedua orang tua tercinta melepas kembali putra kesayangannya ini di sebuah stasiun kereta api. Dengan berbekal seadanya -sedikit pakaian <span style="text-decoration: line-through;">tanpa peralatan <em>make-up</em></span>, berkas-berkas penugasan, <em>gadget-gadget</em> teman setia &amp; tak lupa kartu sakti yang konon bernama ATM itu- saya berangkat ke Bandung (masih di seputaran Indonesia kok, hehe). Lumayan naik KA Eksekutif, karena memang ada yang menanggung semua biayanya (tentu saja negara <em>dong</em>, kalo kantong pribadi <em>mah </em>bisa tekor di jalan!).</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-260"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya di <em>mBandung</em> (Bandung, Ed., maklum lidah kami lebih suka mengatakan begitu, lebih mudah katanya. Sama dengan orang Sunda yang tidak suka dibilang kalau mereka tidak bisa menyebut huruf &#8216;F&#8217;. &#8220;Itu <em>mah pitnah </em>!&#8221; kata mereka membela <img src='http://thedion.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ), saya ditampung oleh seorang teman. <em>Alhamdulillah masih ada yang mau saya repotin</em>, pikir saya (dan semoga Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu memudahkan kebutuhannya). Dua malam saya numpang di kostnya, akhirnya saya menemukan sepetak rumah kost di sebuah tempat yang letaknya tidak jauh dari tempat kost teman saya itu. Peran Allah juga terlihat disini, karena kost saya itu berada hanya beberapa meter dari masjid. Alhamdulillah. Saya masih bisa memenuhi panggilan-Nya untuk shalat berjamaah karena jaraknya yang dekat. Ternyata Dia Yang Maha Pengasih masih memelihara proses taubat saya (yang masih fluktuatif ini).</p>
<p style="text-align: justify;">Hari pertama di tempat magang, saya dipertemukan dengan 13 rekan dosen lainnya yang berasal dari berbagai penjuru Nusantara! (hehe, sebenarnya cuma dari Madura, Surabaya, Jombang, Jogja, Kalimantan serta dua rekan dari Ambon dan Merauke saja <em>ding</em>). Dikenalkan dengan beliau, dua orang pembimbing  <em>friendly </em>berstrata-tiga lulusan luar negeri juga membuat kami makin semangat dalam menjalaninya, selain institusi ini juga berkelas tentunya. Dan setelah acara perkenalan satu sama lain, orientasi kampus, serta pembahasan akomodasi (ini dia yang terkadang menyesakkan dada kami), akhirnya kami diberikan sebuah ruangan khusus sebagai posko kami selama lima bulan ke depan. Singkat cerita, aktivitas studi banding kami sebagai 14 makhluk <em>ndeso </em>yang membawa nama institusi daerah masing-masing telah dimulai (eh, jangan salah kawan, meski kami <em>ndeso </em>tapi kami sudah <em>nguthani</em>, apalagi <em>nginteleki lho</em> kalau kami memakai jaket berbordir ‘gajah bertapa’ pemberian beliau-beliau koordinator kami, hehe).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Nah</em>, sekarang waktunya masalah demi masalah itu muncul (kata orang bijak, <em>gak</em> ada masalah <em>gak asik</em>! Bukankah hidup ini adalah sumber masalah? Maka mindset kitalah yang harusnya disetting untuk siap dalam menghadapi masalah, apapun itu! Kan ada Allah Yang Maha Penolong&#8230;). Mulai dari diimami secara lamaa sekali oleh orang yang agak ‘majnun’ di Masjid Salman hingga saya harus mengulang shalat saya, jatuh dari motor karena ditabrak orang yang melanggar <em>traffic light </em>di Simpang Dago (untung cuma luka ringan), <em>jetlag</em> yang berkepanjangan (<em>morning sickness</em>, flu, batuk, meriang, kedinginan, dan tentu saja, kangen rumah, hehe), kesasar di rimba belantara Bandung, shalat di mushola khusus wanita (kalau yang ini salah sendiri gak dipasang tulisan ‘khusus akhwat’!), disentimeni satpam penjaga parkir kampus, kesasar di rimba belantara Bandung lagi, sampai uang akomodasi yang menjadi hak kami tak kunjung juga cair (<em>nah lho</em>, menyesakkan dada bukan?).</p>
<p style="text-align: justify;">Namun akhirnya, Dia Yang Maha Memberi memberikan apa yang selama ini kami minta (untuk yang poin terakhir, kawan). Alhamdulillah Jumat kemarin bekal hidup itu cair (apa kataku, hari Jumat memang ajaib!), meski hanya setengahnya saja. Itupun masih dipinjami dulu oleh pihak LAPI ITB, selaku koordinator program ini. Yang dari DIKTI <em>mah </em>belum juga cair <em>euy</em>! <em>(teteup..</em>.). Mungkin karena itu pulalah akhirnya saya bersemangat kembali untuk meng-<em>update</em> blog ini setelah sebulan lebih terbengkalai. <em>Lebai gak ya?</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hikmahnya, kawan,</strong> <span style="color: #008000;">bersyukurlah atas apa yang terjadi sekarang ini, apapun yang terjadi, bahkan sabar bisa juga diubah menjadi syukur, karena engkau pasti akan berterima kasih atas apa yang telah terjadi akibat kesyukuranmu itu dulu…</span> <img src='http://thedion.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Itu….. <em>*sambil mengangkat telunjuk, pak Mario Teguh’s style*</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thedion.com/?feed=rss2&amp;p=260</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Teori Sedekah Jalanan</title>
		<link>http://thedion.com/?p=247</link>
		<comments>http://thedion.com/?p=247#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 16:07:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>si Dion</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Qolbutheraphy]]></category>

		<category><![CDATA[University of Life]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thedion.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Sudah beberapa hari ini ibu setengah baya itu selalu terlihat di lampu merah. Bersama anaknya yang masih dalam gendongannya, ia terpaksa turun ke jalanan untuk meminta sedekah ikhlas dari para pemakai jalan. Siang itu memang sangat terik ketika saya dalam perjalanan pulang setelah menjalani rutinitas harian. Ia hampiri satu persatu pengendara motor dan mobil tanpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px; float: right"><img class="size-full wp-image-614 alignnone" style="margin-left: 3px; margin-right: 3px; float: left" title="Pengemis" src="http://thedion.com/wp-content/uploads/2009/05/pengemis.jpg" alt="" width="156" height="208" />Sudah beberapa hari ini ibu setengah baya itu selalu terlihat di lampu merah. Bersama anaknya yang masih dalam gendongannya, ia terpaksa turun ke jalanan untuk meminta sedekah ikhlas dari para pemakai jalan. Siang itu memang sangat terik ketika saya dalam perjalanan pulang setelah menjalani rutinitas harian. Ia hampiri satu persatu pengendara motor dan mobil tanpa menggunakan alas kaki. Bisa dibayangkan panasnya telapak kaki ibu itu. Ia hanya berharap ada orang yang memberinya kepingan uang  kecil. Untuk membeli susu anaknya yang masih kecil, katanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya, di tempat lain. Kami –saya bersama teman-teman kantor- sedang membicarakan keberadaan orang-orang (maaf) ‘tangan dibawah’ itu. Entah darimana asal pembicaraan ini, tapi ternyata kami terlibat dalam sebuah obrolan yang hangat tentangnya. Dan memang, keberadaan komunitas itu sedikit banyak menimbulkan dilema bagi para pemakai jalan, terutama mereka yang terbiasa dengan ‘tangan diatas’nya. Satu sisi, komunitas itu bisa membantu kita dalam bersedekah, namun di sisi lain keberadaan mereka justru menimbulkan stigma negatif di mata masyarakat karena dianggap sebagai kaum pemalas.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-247"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika orang menganggap pekerjaan komunitas itu bisa menjadi jalan baginya dalam bersedekah, maka orang tersebut tidak lagi memikirkan dampak dari sedekahnya itu. Bahkan tak jarang sebagian dari mereka akan berterima kasih karena pada komunitas tertentu akan membalas pemberian si ‘tangan diatas’ itu dengan sebuah doa kecil. Tetapi ketika mereka dipandang sebagai sekumpulan pemalas karena hanya bisa meminta-minta saja setiap harinya, maka orang-orang yang memandang demikian akan mencoba bertahan dengan tidak memberikan sedekah kepada mereka. Hal ini bisa dimengerti karena mungkin para ‘tangan diatas’ itu sudah mempunyai jalur sedekah sendiri seperti menjadi donatur tetap di sebuah panti asuhan, masjid, rumah zakat, para tetangga miskin dan sebagainya. Jadi, mereka lebih senang bersedekah melalui ‘jalur resmi’ tersebut daripada harus di jalanan yang mungkin malah akan mendukung keputusan para komunitas tersebut untuk menjadi seorang peminta-minta, bukan pekerja keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Dilema memang. Namun di akhir obrolan itu, salah satu dari kami memberikan tips jitu yang insya Allah berkah ketika kita menghadapi situasi semacam tadi diatas, yaitu ketika dihampiri oleh seorang peminta sedekah di lampu merah. Sederhana saja, katanya, pada saat dihampiri seorang peminta, ada atau tidak uang yang pantas diberikan kepada mereka? Kalau ada dan waktu untuk berhenti karena lampu merah menyala masih memungkinkan, ya berikan saja uang itu. Kalau tidak ada uang atau sikon untuk memberi tidak memungkinkan karena lampu merah sudah hampir hijau, maka tolak saja tangan menengadah mereka, tentu saja dengan sopan, lanjutnya. Sudah, titik. Jangan berpikir lagi dampaknya jika memberi atau merasa berdosa karena meninggalkan bergitu saja kesempatan untuk bersedekah. Niatkan karena Allah semata, tutupnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #333399;">Berilah jika memungkinkan, tolaklah dengan sopan jika tidak memungkinkan untuk memberi. Sederhana bukan?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Alangkah indah orang yang bersedekah, dekat dengan Allah dekat dengan surga&#8221;</em> &#8211;Opick.</p>
<p style="text-align: justify;">Selamat bersedekah, kawan.. <img src='http://thedion.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;"><em>**Terima kasih Pak Amin, untuk teorinya. Gambar diambil dari <a href="http://media.photobucket.com/image/pengemis/labuhanbatu_photo/">sini</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thedion.com/?feed=rss2&amp;p=247</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- www.000webhost.com Analytics Code -->
<script type="text/javascript" src="http://analytics.hosting24.com/count.php"></script>
<noscript><a href="http://www.hosting24.com/"><img src="http://analytics.hosting24.com/count.php" alt="web hosting" /></a></noscript>
<!-- End Of Analytics Code -->
