Saat itu maghrib, seperti biasa saya shalat jamaah di musholla depan rumah. Pemirsa, untuk aktivitas shalat jamaah ini sepertinya menempati prioritas tertinggi dalam list to do saya mengingat hukum WAJIB yang disandangnya. Sampai-sampai Rasulullah pernah ingin membakar rumah para tetangganya yang enggan melakukan shalat berjamaah padahal mereka mampu. Sambil menunggu iqomah, saya sempatkan untuk membaca kertas-kertas yang ditempel di salah satu daun jendela –sebuah aktivitas yang jarang sekali saya lakukan karena biasanya saya hanya menunggunya di rumah dan datang ke musholla ketika pak imam sudah memulai takbiratul ihramnya, makmum yang telat!. Akhirnya saya temukan sebuah kertas yang masih tertempel, berisi jadwal imsakiyah Ramadhan 1429 H yang beberapa hari lalu telah kita tinggalkan. Sampai disini ingatan saya menyeret untuk kembali mengenang hari-hari di bulan itu. Hari-hari yang berbeda dari yang ada di bulan-bulan yang lain. Satu bulan yang indah.
Flashback ke suatu hari di bulan itu ketika saya mengalami suatu perasaan yang lain. Ketika itu, pagi, ketika saya sedang menanti jam masuk kerja. Saya sempatkan untuk menonton sebuah acara musik di salah satu stasiun swasta negeri ini. Pada acara itu saya dikenalkan dengan sebuah lagu dari sebuah band yang sedang melambung namanya melalui album pertamanya. D’Masiv nama bandnya, dan ‘Merindukanmu’ adalah salah satu judul hits mereka yang ingin saya ulas disini. Lagu ini bukan hanya bagus musiknya tapi memunyai lirik yang indah pula. Dan ini dia liriknya:
Merindukan-Mu
-oleh D’Masiv-
Saat aku tertawa di atas semua
Saat aku menangisi kesedihanku
Aku ingin Engkau selalu ada
Aku ingin Engkau aku kenal
Selama aku masih bisa bernafas
Masih sanggup berjalan
Ku kan slalu memuja-Mu
Meski ku tak tahu lagi
Engkau ada di mana
Dengarkan aku ku merindukan-Mu
Saat aku mencoba merubah sgalanya
Saat aku meratapi kekalahanku
Dengarkan aku ku merindukan-Mu
Mungkin berbeda cara menikmati sebuah lirik saya dengan D’Masiv sendiri, atau mungkin dengan pemirsa sekalian. (more…)





