
Hari itu indah sekali. That was a great day! Sore kemarin, Jam 6 kurang seperempat aku baru aja sampai di kostan setelah seharian ikut outbond di Kalikuning. Pffuuuahhh.. setelah beberapa minggu sok sibuk dengan skripsi, akhirnya bisa refresing juga. Kembali ke alam, adventuring, games, tafakur, dan kembali untuk mengingat siapa saya yang kecil , tidak ada apa-apanya dan sombong ini…!
Wah, harus bisa ngejar jam 7 nih biar kebagian tempat di depan, batinku saat itu. Karena jam 7 nanti ada acara “A Moment in Time with Laskar Pelangi” bersama Bang Ikal (panggilan sok akrab Andrea Hirata!
). Meski dengan kondisi kepala yang sedikit pusing karena kehujanan dan kaki kanan yang sedikit keseleo karena hiking tadi siang, untuk acara itu akan kuusahakan datang karena mencakup hal penting yang ada di 3 novelnya yang dahsyat itu! Pikirku saat itu MP Bookpoint Jogja -tempat diselenggarakannya acara itu- telah menyediakan gedung yang ber-AC dan bisa mengakomodasi para pesertanya yang sudah bisa dipastikan akan banyak. Ternyata tidak seperti itu. Dengan keterlambatan kami yang cuma 15 menit, kami harus mencari tempat berdiri disela-sela pelataran rumah yang kecil itu. Malam itu aku datang bersama dengan teman kostku Arfan. Dia baru membaca separuh dari buku pertama Tetralogi Laskar Pelangi. Heu..heu.. kasihaaan..
Sekitar jam 8 lewat 15 barulah sosok Andrea Hirata itu tampil. Dia tampil nyentrik berlapiskan jaket coklat dan topi khasnya. Gaya ‘lebai’nya (maaf, ini kata teman saya yang malam itu hanya menitipkan salam saja ke Bang Ikal, hehe..) juga masih nampak. Secara otomatis keluar juga sambutan meriah dan kamera-kamera canggih dari penonton untuk mengambil gambarnya. Saat itu aku masih berdiri di barisan belakang dengan sedikit menahan nyeri kaki yang keseleo itu. Sambutan pertama dia buka dengan menceritakan ‘oleh-olehnya’ dari talk show dia di Singapore. Katanya, orang sana masih mengapresiasi karya-karya sastra Indonesia! Ada istilah dia ‘Sleeping Giant’ untuk sastra Indonesia. Dan ‘Sleeping Giant’ kita itulah yang membuat novel Laskar Pelangi hingga saat ini sudah dicetak ulang sampai beribu-ribu kali. Dia sadar betul kalau informasi mouth-to-mouth sangat efektif untuk Laskar Pelangi yang fenomenal itu. Aku salah satu yang mengalaminya.
Jika diingat, dia juga bukan sastrawan, bukan seorang yang mempunyai latar belakang pendidikan sastra, bukan juga novelis yang sebelumnya pernah menerbitkan novel. Menurutnya, suatu saat nanti sastra Indonesia akan menjadi milik ilmuwan, bukan lagi milik sastrawan seperti saat ini. ‘Sastra’ hanya tekstual saja, sedangkan yang menjadi kekuatan cerita adalah ilmu yang dimiliki oleh seorang penulisnya. Ilmu itu bisa saja ilmu biologi, astronomi, fisika, kimia, geografi, ekonomi, dsb. Seperti yang dialami oleh Bang Ikal sendiri, ternyata koleksi jurnal-jurnal tentang ilmu-ilmu diatas adalah 1,5 ton! Itulah yang menjadi Tetralogi Laskar Pelangi menjadi kaya sekali dengan pembahasan perbintangan, rumus fisika, geografi dan lainnya. Begitu juga ilmu agama. Menulis tentang ilmu agama menjadi sebuah novel juga termasuk substansi dakwah. Bahkan dia support sekali untuk yang ini. Kekuatan agama juga dirasa sangat perlu untuk dijadikan ‘modal’ untuk menulis sampai akhirnya bisa memengaruhi seseorang untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi dengan didasari oleh agamanya. Sepakat! Menulislah untuk agamamu.
Oia, ada sedikit cerita dari Lintang, salah satu Laskar Pelangi yang jenius itu. Suatu saat Bang Ikal pulang dari kuliahnya di Sorbone Prancis untuk menjenguk ibunya yang saat itu sedang sakit. Tapi kepulangannya kali itu disertai dengan tugas kuliah yang membuatnya pusing. Ada soal integral ‘bercacing 4’ yang harus diselesaikan ketika dia kembali kuliah nanti. Tahukah kawan (maaf, kupakai kata ini sebelum Bang Ikal patenkan!
), siapa yang mengerjakan soal itu? Ya, dialah Lintang. Urgh, kecewaku kembali sedikit kambuh. kecewaku untuk sesuatu yang kita lihat sebagai ketidakadilan nasib. Ah, tapi tentu apa yang kita lihat sebagai ketidakadilan tidak harus sama dengan apa yang dilihat-Nya. Tuhan lah yang mengetahui segalanya.
Kawan, ternyata pemecahan dari soal itu berhasil membuat Bang Ikal dipanggil oleh dosen yang memberikan tugas itu. Bang Ikal yang waktu itu sudah pesimis lulus mata kuliah itu menjadi terperangah ketika dosennya mengapresiasi apa yang dibawa dari tangan sahabat Laskar Pelanginya, Lintang. Soal itu sebenarnya sudah tidak ada solusinya, tapi cara-cara yang diberikan Lintang itu sangat jenius. Lintang membagi ‘cacing-cacing’ itu menjadi beberapa bagian untuk selanjutnya dihasilkan solusinya. Kata bang Ikal, inilah perbedaan apa yang disebut jenius dan rajin. Dan ketika ada penonton yang bertanya tentang kejeniusannya, dia lebih memilih sebagai seorang yang rajin untuk menghasilkan novel tetraloginya itu.
Tentang film Laskar Pelangi yang akan mulai syuting tanggal 25 Mei 2008 nanti, dia merasa draft-draft sekenarionya sudah sesuai dengan keinginannya. Tinggal dijalankan syutingnya. Dia juga mengutarakan bahwa dia tidak salah memilih Riri Riza sebagai sutradaranya. Karena apa yang ada di novel itu telah tersampaikan di film itu. Satu hal yang penting tentang film Laskar Pelangi adalah Bang Ikal mengajak kita untuk berkaca di depan cermin dan merasa bahwa kita itu cantik atau tampan rupawan setelah kita menonton film ini. Mungkin ini bahasa syukurnya Andrea Hirata. Seperti yang tersirat dalam Edensor, yaitu sebuah pesan untuk mensyukuri sekecil apapun nikmat yang kita terima.
Ngomong-ngomong soal nama Hirata, ternyata itu bukan dari kata Jepang seperti yang dikira sebagian orang lho! Menurutnya, Hirata berarti akhirat, yang bermakna bahwa dia harus selalu mengingat akhirat sebagai kampung hidup kekalnya kelak. Nama yang luar biasa bukan?
Sedikit tentang Laskar Pelangi in Action, aksi ini nantinya akan berupa kelas-kelas gratis yang akan dibangun di kampung Belitong, tempat masa kecil Laskar Pelangi beraksi dulu. Kelas itu berupa SMP dan SMA. Sedangkan pelajaran yang akan diajarkan adalah pelajaran-pelajaran ilmu eksak dan bahasa Inggris. Aksi ini murni dengan swadaya personal tanpa adanya pengaruh dari pihak-pihak luar. Jadi jika ada pihak-pihak lain baik berupa website atau aksi-aksi yang mengatasnamakan Laskar Pelangi in Action berarti itu adalah tidak benar dan penipuan. Jangan sampai tertipu, kawan.
Memang singkat sekali acara itu. Jam 21.15-an Bang Ikal sudah meninggalkan panggung. Dia memang bukan lagi pegawai Telkom biasa, tapi pegawai khusus dengan kesibukan di luar kantornya. Kata hostnya, nanti akan ada sesi book-signing di akhir acara. Walau suasana malam itu sangat ramai, setidaknya ada harapan lah untuk ikut berburu tanda tangan Bang Ikal. Sambil mendengarkan dengan seksama acara pengundian doorprize, kami kembali menikmati teh panas dan kue enak di ruangan sebelah. Hehe.. pada pengundian-pengundian doorprize sebelumnya, aku tidak pernah beruntung untuk mendapatkan salah satunya, kecuali setiap jalan santai 17-an di kampung asalku karena memang banyak sekali doorprizenya
. Tapi kali ini tetap kuminta lagi ke Allah agar salah satu doorprize itu bisa kubawa pulang jika ada manfaatnya. Lalu iseng aku tanya ke salah satu panitia acara, ”Mba, nanti sesi book-signingnya dimana ya?”. Lalu mba yang sedang menjaga pintu itu menjawab,”Oh, Andreanya udah pergi mas, udah cabut”. Agh, kecewa juga nih! Pasti sama dengan yang dialami oleh pengunjung lain yang juga sedang membawa novel-novelnya Bang Ikal. Dan rencana untuk membubuhkan tanda tangan sang penulis ke halaman pertama novel-novel yang kubawa pun akhirnya tidak kesampaian. Mungkin lain waktu jika masih ada umur untuk bertemu, pikirku. Aku pun kembali duduk untuk menikmati kue-kue dan teh yang sudah mulai hangat itu.
Sampai tiba-tiba terdengar namaku dipanggil oleh host acara untuk mendapatkan sekantong merchandise dari Laskar Pelangi. Wah, itu aku! Kataku ke Arfan sambil bergegas mengambilnya ke depan. Setelah kubuka ternyata isinya adalah mug cantik LP, sebuah pin LP dan buku “The Naked Traveler” karangan Trinity, sebuah buku yang menceritakan pengalaman penulisnya yang telah melalang buana ke tempat-tempat wisata di penjuru tanah air dan dunia alias jalan-jalan, travelling! Agak vulgar juga sih judulnya, tapi kan belum dibaca isinya. Siapa tahu bermanfaat karena aku juga suka travelling. Dan itulah merchandise terakhir yang dibagikan pada malam itu. Lumayaan.. bisa sedikit menggantikan kekecewaanku karena tidak mendapat tanda tangan Andrea Hirata.
Akhirnya, aku bersyukur sekali untuk hari Sabtu itu. Alhamdulillah Ya Rabb. Jazakumullah semuanya. Thanks Bang Ikal. Semoga besok sudah bisa semangat lagi meneruskan skripsiku untuk mengejar mimpi-mimpi yang sudah semakin berkecamuk saja di kepala ini. Thanks for that day. Merci beaucoup. Bon courage!