Archive for the ‘ Jogja ’ Topics



 
Sunday, December 21st, 2008

Tersirat dalam wajah lelahnya, sebuah keikhlasan dalam menjalankan amanah. Beliau adalah ibunda guru Muslimah, sesosok wanita perkasa di pulau Belitong nun jauh di seberang sana. Jasanya dalam pendidikan sungguh menginspirasi. Tak heran jika Andrea Hirata, sang penulis fenomenal itu mengukir namanya di dalam sebuah tetralogi buku. Juga tersemat di dalam hatinya. Beliau adalah seorang pengajar, guru, pendidik, yang rela menerima setiap keterbatasan dalam mencerdaskan anak-anak didiknya. Beliau adalah ibu di sekolah. Ibu guru selalu mulia.

Tak jauh berbeda, tersebut seorang wanita yang juga mencoba mengabdikan diri kepada masyarakat dan negara. Tak kenal waktu dalam pengabdian. Malam bukan waktu yang khusus baginya, karena kehendak Tuhan akan kelahiran seorang anak manusia tidak bisa diatur oleh manusia. Ketika terpanggil untuk sebuah penyakit yang menyerang warga di tempat yang jauh disana, maka ini menjadi tantangan untuk sebuah komitmen. Jubah putih dengan sematan merah delima yang selalu dipakainya seakan mengisyaratkan kebersihan dan kesucian hati dalam menjalankan peran. Beliau adalah ibuku. Wanita paling hebat sedunia.

Sungguh, berapapun untaian kata terindah di dunia ini terangkai sempurna, tidak akan bisa menggantikan setiap tetes keringat ibu untuk kita.

Teruntuk ibu-ibu hebat di seluruh Indonesia,
selamat hari ibu.. :)

Serta untuk ibuku yang saat ini sedang berada di Surabaya,
I’ll always love you mom.. :)

 
Friday, July 18th, 2008

Pertama kali ‘berjuang’ di Jogja sih bukan di rumah kost ini aku tidur. Aku sempat numpang di rumah pakdhe di Pingit selama seminggu ketika baru saja sampai di Jogja. Selama itu, ketika sorenya kuliah, siangnya kupakai untuk mencari rumah kost. Pernah juga uang DP 300 ribuku melayang karena waktu itu aku terlalu terburu-buru memutuskan. Soalnya rumah kostnya ga ada garasinya, jadi ga boleh deh sama yang kupinjami motor (ortu!). Setelah mencari-cari lagi, akhirnya aku dikenalkan sama teman kakakku yang kebetulan orang tuanya punya bisnis kost. Dari situ akhirnya aku teken kontrak selama 1 tahun kost di daerah belakang El’s Komputer, Terban. Agak mahal memang, tapi memang udah ga ada pilihan lagi waktu itu. Setelah kontak yang punya uang (ortu!) untuk menanyakan persetujuan beliau tentang sewa selama 1 tahun kost, akhirnya disepakati. Awal September 2006, ruangan kost panas (karena terletak di luar dan di atas, 1 lantai dengan jemuran) dengan kamar mandi di dalam itu resmi menerimaku. Ibu kost memintaku untuk membayar tahunan, jadi bisa dihitung sendiri 250 ribu x 11 bulan (‘bulan ajaran baru’ kost itu adalah Agustus), cash!

1 tahun pun hampir berlalu, semakin ga betah aja tinggal disitu. Maka kuputuskan tahun kedua nanti akan kucari lagi rumah kost yang lebih nyaman. (more…)