
Film ini dimulai ketika Fahri meminta tolong kepada Maria untuk membetulkan komputernya yang sedang terkena virus. Inilah kesan pertama yang terjadi ketika aku baru saja duduk untuk menonton film Ayat-Ayat Cinta ini. Komentarku yang muncul pertama kali adalah sedikit kecewa. Ya, karena adegan itu tidak kutemukan di novelnya. Juga adegan ketika Fahri, Maria beserta teman-teman satu flatnya (Syaiful, Rudi & Hamdi) sedang berkumpul di flat kecil itu. Rasanya tidak mungkin mereka berkumpul hingga sangat dekat. Namun setelah itu, banyak juga adegan-adegan yang sesuai dengan yang ada di novel.
Oiya, Jika dilihat dari setting tempat dan gambarnya, film ini sungguh sangat artistik juga halus. Entah apalah istilahnya kalau di dunia perfilman, aku tak tahu, yang jelas film ini menampilkan kesan original khas timur tengah. Dengan latar belakang lokasi yang diperoleh di Mesir (atau India?), menjadikannya sesuai dengan setting yang ada di novel. Sungguh suatu kerja keras yang bagus dari kru pembuatnya. Selamat!

Hingga sampai beberapa saat film berjalan, aku baru menemukan adegan ketika Fahri dipanggil oleh Maria melalui jendela. Di dalam novel, adegan ini berada di Bab pertama yang berjudul ‘Gadis Mesir itu bernama Maria’. Adegan dimana Maria bermaksud ingin menitip Disket (dalam film menjadi CD -Mungkin disesuaikan dengan perkembangan teknologi-) ke Fahri ketika dia akan berangkat talaqqi (belajar langsung face-to-face dengan syaikh/ulama) ke Shubra.

Salah satu adegan yang menarik adalah ketika Fahri bertemu dengan Aisha dan Alicia, seorang turis Amerika di dalam kereta (metro). Kalau di film, peristiwa tersebut terjadi setelah Fahri tallaqi dengan Syaikh Utsman di Shubra.

Adegan demi adegan yang ada di novel diperlihatkan di film ini. Adegan ketika maria menurunkan keranjang yang berisi kamus (?) kepada Fahri yang kamarnya berada tepat di bawahnya. Adegan ketika si Bahadur memukuli anaknya tirinya Noura, hingga Noura sampai diselamatkan oleh Maria atas permintaan Fahri. Noura kemudian ditempatkan di flat Nurul, teman Fahri yang diam-diam juga menaruh hati kepadanya itu sampai akhirnya dipertemukan dengan kedua orang tuanya. Hehe..maaf, wajah Bahadur dalam film ini memang lebih mirip dengan tuan takur (orang India) daripada orang Mesir. Juga adegan ketika Fahri, Aisha dan Alicia si turis itu berkumpul dan berdiskusi tentang agama Islam. Serta banyak adegan lainnya yang sama dengan yang ada di novel.

Adegan yang tidak ada di novel, atau paling tidak mengalami sedikit perubahan dari aslinya juga muncul. Selain peristiwa virus komputer diatas, salah satu yang kuingat adalah ketika Fahri dan Aisha berada di ruangan di tepi sungai Nil setelah pesta walimatul ursy mereka. Adegan Fahri mengecup kening Aisha ditampilkan ‘berbeda’ di filmnya. Allahu’alam. Dan yang sedikit menyimpang adalah diceritakannya kehidupan poligami Fahri dengan Aisha & Maria setelah dia bebas dari tuduhan pemerkosaan Noura. Sebagaimana yang diketahui oleh pembaca novelnya, cerita ini tidak ada di dalam novel.
Ada adegan yang menurutku bagus untuk ditampilkan tetapi menjadi tidak ada di filmnya. Yaitu adegan ketika Fahri sedang berada di rumah sakit. Adegan ketika itu Fahri sedang bermimpi dijenguk oleh Sahabat Nabi itu tidak ada di film ini. Juga jangan berharap bisa mendengar suara adzan yang senantiasa indah memanggil ketika masuk waktu shalat. Serta suara Fahri dalam mengagungkan Allah ketika suami istri itu sedang berduaan di kamar bulan madunya, seperti yang ada di novel. Disini mungkin kita bisa menyimpulkan sendiri lebih ber-genre apakah film ini. Film islami, film cinta, atau mungkin film cinta islami???

Ada satu adegan yang membuatku terenyuh, merinding dan terharu. Yaitu ketika Fahri di dalam penjara. Adegan ini sedikit berbeda dengan yang ada di dalam novel. Meski kita tidak akan menemui nama Prof. Dr. Abdul Rauf, seorang guru besar Universitas El-Menya yang ditemui Fahri di penjara, namun seorang lelaki separo baya yang tidak disebutkan namanya ini bisa menggantikan orang yang berilmu itu. Ya, orang yang berilmu tinggi, kurasa karena dia sudah mengerti ilmu ikhlas.

Adegan dimulai ketika Fahri menerima surat dari Al-Azhar bahwa dirinya telah dikeluarkan dari universitas tertua di dunia itu. Seketika Fahri menangis sedih dan sangat hancur lebur hatinya. Kemudian si orang ini mendekat dan ikut membaca isi dari surat Fahri. Dari sinilah bapak separo baya ini mulai mengingatkan dan menasehati Fahri tentang apa yang telah terjadi padanya. Bapak yang sering sekali tertawa ini mulai mengeluarkan kata-kata yang membuatku terenyuh. Kisah Nabi Yusuf seperti yang diceritakan di novelnya juga diceritakan oleh bapak itu. Adegan yang dibalut dengan alunan piano dan biola yang indah ini berhasil membuatku terenyuh dan sedikit meneteskan air mata… hal yang sama ketika sebelumnya aku membaca novelnya. Dan kalimat terakhir yang diucapkan bapak itu, membuat air mataku makin banyak keluar dari mata ini. Kalimat itu adalah “sabar… ikhlas… itu Islam Fahri….”. Mungkin inilah adegan terbaik di dalam film ini. Setidaknya menurut pendapatku.

Dan inilah adegan terakhir film ini. Adegan ketika Maria menghembuskan nafasnya yang terakhir. Maria akhirnya meninggal dunia ketika shalat berjamaah dengan Fahri & Aisha, bukan dengan dua kalimah syahadat seperti yang ada di novelnya. Dan bab terakhir di novel yaitu ‘Nyanyian dari Surga’ itu tidak pernah ada dalam film ini.
Sebenarnya sangat banyak jika diungkapkan semuanya. Tapi mungkin sedikit diatas bisa mewakilinya. Dibalik semua yang telah tertulis diatas, film yang kutonton ini adalah versi unrelease-nya. Mungkin besok lusa ketika sudah premier di bioskop akan ada pengurangan atau mungkin penambahan adegan lagi.
Segala hal yang mugkin berbeda, janggal, atau mengecewakan dari film ini bergantung pada sikap kita dalam menilainya. Karena, dibalik ini semua juga pasti ada niatan yang baik dari sang sutradaranya untuk ‘membuat film untuk agamanya’, seperti yang tertulis dalam ungkapan Hanung Bramantyo, sang sutradara film Ayat-ayat Cinta ini. Bagaimanapun juga, film yang diangkat dari novel tidak akan sebagus dari novelnya. Setidaknya itu yang kudapat setelah menonton film ini. Dan jika kita merasa puas dengan film ini, maka saatnya untuk menunjukkan apresiasi kita. Yaitu paling tidak dengan membeli DVD Originalnya ketika sudah rilis nanti (hal yang sama ketika aku membeli novelnya dulu:P). Itu mungkin yang diharapkan juga oleh produsernya. Selamat menonton ! mohon maaf jika saya salah.