Archive for the ‘ Apresiasi ’ Topics



 
Sunday, December 21st, 2008

Tersirat dalam wajah lelahnya, sebuah keikhlasan dalam menjalankan amanah. Beliau adalah ibunda guru Muslimah, sesosok wanita perkasa di pulau Belitong nun jauh di seberang sana. Jasanya dalam pendidikan sungguh menginspirasi. Tak heran jika Andrea Hirata, sang penulis fenomenal itu mengukir namanya di dalam sebuah tetralogi buku. Juga tersemat di dalam hatinya. Beliau adalah seorang pengajar, guru, pendidik, yang rela menerima setiap keterbatasan dalam mencerdaskan anak-anak didiknya. Beliau adalah ibu di sekolah. Ibu guru selalu mulia.

Tak jauh berbeda, tersebut seorang wanita yang juga mencoba mengabdikan diri kepada masyarakat dan negara. Tak kenal waktu dalam pengabdian. Malam bukan waktu yang khusus baginya, karena kehendak Tuhan akan kelahiran seorang anak manusia tidak bisa diatur oleh manusia. Ketika terpanggil untuk sebuah penyakit yang menyerang warga di tempat yang jauh disana, maka ini menjadi tantangan untuk sebuah komitmen. Jubah putih dengan sematan merah delima yang selalu dipakainya seakan mengisyaratkan kebersihan dan kesucian hati dalam menjalankan peran. Beliau adalah ibuku. Wanita paling hebat sedunia.

Sungguh, berapapun untaian kata terindah di dunia ini terangkai sempurna, tidak akan bisa menggantikan setiap tetes keringat ibu untuk kita.

Teruntuk ibu-ibu hebat di seluruh Indonesia,
selamat hari ibu.. :)

Serta untuk ibuku yang saat ini sedang berada di Surabaya,
I’ll always love you mom.. :)

 
Monday, December 15th, 2008



Dan, dengan segenap jiwaku,
karya terakhir Tetralogi Laskar Pelangi ini
ku persembahkan untukmu kawan,
hanya untukmu….”

– Kawanmu selalu, Andrea.



Setelah novel ketiganya, Edensor, selesai saya baca beberapa bulan yang lalu, seperti para pembaca lainnya, saya menjadi tidak sabar lagi untuk membaca novel keempatnya. Beuh, ternyata lama sekali novel keempat itu terbit, dan bisa terbeli oleh saya. Dari informasi-informasi yang saya baca di ruang maya internet ini, ternyata buku pungkasan Tetralogi Laskar Pelangi itu baru akan terbit setelah film Laskar Pelangi selesai digarap. Tapi saya senang juga waktu itu karena akan segera menonton kembali sebuah buku yang difilmkan. Menurut saya, buku yang difilmkan akan mempunyai daya tarik tersendiri terutama bagi pembaca atau penyukanya, pun meski tak akan sebagus bukunya. Dijamin, Kawan. Meski sampai saat ini saya belum juga menontonnya.. (kasian banget saya)

Lalu kemudian saya mengetahui kalau novel Maryamah Karpov ternyata (more…)

 
Wednesday, August 6th, 2008

Memasuki bulan Agustus ini, biasanya masyarakat Indonesia menjadi bangkit nasionalismenya. Banyak sekali nuansa merah putih menghiasi seantero kepulauan Republik Indonesia ini. Iklan-iklan panjang yang menggambarkan keaneka-ragaman budaya negeri ini tersaji dengan sangat menawan, dan tak kalah ikut meramaikan semarak nasionalisme bangsa Indonesia di media televisi. Lagu-lagu perjuangan pasti juga akan diputar kembali di sudut-sudut kampung pada puncak peringatan tanggal 17 Agustus nanti. Dan itu terjadi di seluruh daerah di kepulauan Indonesia tercinta ini. Suatu moment yang hebat, bukan? Kadang aku berpikir, sebenarnya negeri ini masih bisa kompak untuk satu ‘hajatan’. Namun aku juga selalu tak habis pikir kenapa untuk hajatan ‘menghapus budaya korupsi-kolusi-nepotisme’ selalu saja tak bisa. Selalu saja tak berhasil. Ternyata budaya ’sama-sama butuh’ masih dipegang erat-erat oleh para pelakunya.

Tapi bukan hajatan itu yang akan kubahas. Aku hanya ingin membahas foto diatas, yaitu Viky Sianipar, yang menurutku adalah seorang komposer lagu yang brillian dan juga berjiwa nasionalis lewat lagu-lagu yang dia ciptakan.

Sedangkan Indonesian Beauty sendiri adalah nama salah satu album yang dia ciptakan beberapa tahun yang lalu, yang berisi lagu-lagu daerah yang diaransemen menjadi sangat indah. Album ini, yang sebelumnya sudah kumiliki beberapa lagu di dalamnya, sebenarnya sudah lama aku cari. Dan beruntung, ketika ke Jogja lagi kemarin, Bang Lubis yang fans beratnya Bang Viky itu membagikan sebagian lagu-lagu Indonesian Beauty yang belum aku punya itu dan ditambah lagi album Toba Dream 3 (makasih Bang Lubis, Horas! ;) ).

Beberapa lagu daerah itu adalah Bubuy Bulan, lagu daerah Sunda, Swara Suling dari Jawa Tengah, Journey to Deli, Gondrang, Horas Banyuwangi dan mungkin ada lagi yang lainnya. Over-all, album ini sangat yahud untuk didengarkan, walaupun aku sendiri tidak tahu banyak tentang bahasa-bahasa daerah lainnya selain Bahasa Jawa. Tapi itulah bahasa musik. Aku sendiri juga lebih menikmati musiknya daripada liriknya, ketika mendengarkan suatu lagu (kecuali nasyid). Apalagi lagu-lagu hits Indonesia jaman sekarang. Widiih.. seperti ‘racun’ saja liriknya.

Salah satu lagu yang menurutku keren adalah Horas Banyuwangi. Lagu instrumen berdurasi 00:04:51 ini mengusung bunyi-bunyian khas gamelan Banyuwangi Jawa Timur yang dibalut dengan musik khas Viky Sianipar yang masih ada percikan suara musik Batak. Bukan karena aku yang orang Jatim hingga aku menyukai lagu ini, tapi memang dahsyat sekali aransemennya. Pertama kali kudengarkan, waktu itu di kostku di Jogja, sudah membuat bulu kudukku berdiri karena serasa mendengarkannya secara live di tribun festival konsernya Viky Sianipar and Friends. Sampai segitunya ya!? :D

Lagu-lagu lainnya yang enak untuk didengarkan (bahkan bisa disetel kenceng-kenceng di acara perayaan 17-an nanti) adalah Gondrang, Tongging Hill, Toba Dream, Toba Smile part 1 & 2, Tano Toba, Sing Sing So, Sinanggar Tulo (dengan aransemen rock yang mantabh!), dan Piso Surit. Lagu-lagu itu berasal dari album-album Bang Viky lainnya. Album Indonesian Beauty juga menyisipkan lagu nasional Indonesia Pusaka yang dinyanyikan oleh Rebecca Leuwol. Semakin nasionalis saja.

Sedikit sisipan, ada lagu Bang Viky lagi yang kusuka. Lagu ini bukan lagu nasionalis, tapi sebuah lagu perantauan, kalau Bang Lubis bilang. Mardalan Ahu Judulnya, dinyanyikan oleh Korem Sihombing. Lagu ini halus sekali, mellow, alunan musiknya kena di hati, enak untuk didengarkan untuk jiwa yang sedang menghayati perjalanan hidup. Aku bahkan tidak tahu arti liriknya.

Sekali lagi, inilah bahasa musik. Seharusnya ‘bahasa’ ini bisa mengiringi semangat bangsa Indonesia untuk menuju ke kehidupan yang lebih baik. Menuju Indonesia yang lebih cantik lagi.

M E R D E K A !!!