Archive for the ‘ University of Life ’ Topics



 
Wednesday, December 9th, 2009

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika di dalam hutan

(Imam Syafii, dikutip dari buku ‘Negeri 5 Menara’)

(more…)

 
Saturday, June 27th, 2009

Semuanya berawal dari telepon tengah malam yang mengagetkan itu (udah biasa pak, disini emang gitu, kata salah satu teman saya enteng). Entah kenapa, akhir-akhir ini selalu saja saya yang menjadi obyek penderita jika ada tugas dinas keluar. Okelah kalau bapak pimpinan itu bilang saya masih single, belum punya tanggungan istri dan anak, masih muda dan enerjik, juga manutan (penurut, Ed. Yang ini maksa sih sebenarnya). Namun satu hal yang mereka mungkin belum tahu, bahwa saya sebenarnya juga suka traveling!

Benar, Kawan, saya berpetualang lagi untuk mencari (boleh juga diartikan menantang) sesuatu yang baru, dan meninggalkan segala kenyamanan yang ada. Tiga minggu yang lalu, kedua orang tua tercinta melepas kembali putra kesayangannya ini di sebuah stasiun kereta api. Dengan berbekal seadanya -sedikit pakaian tanpa peralatan make-up, berkas-berkas penugasan, gadget-gadget teman setia & tak lupa kartu sakti yang konon bernama ATM itu- saya berangkat ke Bandung (masih di seputaran Indonesia kok, hehe). Lumayan naik KA Eksekutif, karena memang ada yang menanggung semua biayanya (tentu saja negara dong, kalo kantong pribadi mah bisa tekor di jalan!).

(more…)

 
Thursday, May 14th, 2009

Sudah beberapa hari ini ibu setengah baya itu selalu terlihat di lampu merah. Bersama anaknya yang masih dalam gendongannya, ia terpaksa turun ke jalanan untuk meminta sedekah ikhlas dari para pemakai jalan. Siang itu memang sangat terik ketika saya dalam perjalanan pulang setelah menjalani rutinitas harian. Ia hampiri satu persatu pengendara motor dan mobil tanpa menggunakan alas kaki. Bisa dibayangkan panasnya telapak kaki ibu itu. Ia hanya berharap ada orang yang memberinya kepingan uang kecil. Untuk membeli susu anaknya yang masih kecil, katanya.

Sebelumnya, di tempat lain. Kami –saya bersama teman-teman kantor- sedang membicarakan keberadaan orang-orang (maaf) ‘tangan dibawah’ itu. Entah darimana asal pembicaraan ini, tapi ternyata kami terlibat dalam sebuah obrolan yang hangat tentangnya. Dan memang, keberadaan komunitas itu sedikit banyak menimbulkan dilema bagi para pemakai jalan, terutama mereka yang terbiasa dengan ‘tangan diatas’nya. Satu sisi, komunitas itu bisa membantu kita dalam bersedekah, namun di sisi lain keberadaan mereka justru menimbulkan stigma negatif di mata masyarakat karena dianggap sebagai kaum pemalas.

(more…)