Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika di dalam hutan
(Imam Syafii, dikutip dari buku ‘Negeri 5 Menara’)






Semuanya berawal dari telepon tengah malam yang mengagetkan itu (udah biasa pak, disini emang gitu, kata salah satu teman saya enteng). Entah kenapa, akhir-akhir ini selalu saja saya yang menjadi obyek penderita jika ada tugas dinas keluar. Okelah kalau bapak pimpinan itu bilang saya masih single, belum punya tanggungan istri dan anak, masih muda dan enerjik, juga manutan (penurut, Ed. Yang ini maksa sih sebenarnya). Namun satu hal yang mereka mungkin belum tahu, bahwa saya sebenarnya juga suka traveling!
Sudah beberapa hari ini ibu setengah baya itu selalu terlihat di lampu merah. Bersama anaknya yang masih dalam gendongannya, ia terpaksa turun ke jalanan untuk meminta sedekah ikhlas dari para pemakai jalan. Siang itu memang sangat terik ketika saya dalam perjalanan pulang setelah menjalani rutinitas harian. Ia hampiri satu persatu pengendara motor dan mobil tanpa menggunakan alas kaki. Bisa dibayangkan panasnya telapak kaki ibu itu. Ia hanya berharap ada orang yang memberinya kepingan uang kecil. Untuk membeli susu anaknya yang masih kecil, katanya.