Semuanya berawal dari telepon tengah malam yang mengagetkan itu (udah biasa pak, disini emang gitu, kata salah satu teman saya enteng). Entah kenapa, akhir-akhir ini selalu saja saya yang menjadi obyek penderita jika ada tugas dinas keluar. Okelah kalau bapak pimpinan itu bilang saya masih single, belum punya tanggungan istri dan anak, masih muda dan enerjik, juga manutan (penurut, Ed. Yang ini maksa sih sebenarnya). Namun satu hal yang mereka mungkin belum tahu, bahwa saya sebenarnya juga suka traveling!
Benar, Kawan, saya berpetualang lagi untuk mencari (boleh juga diartikan menantang) sesuatu yang baru, dan meninggalkan segala kenyamanan yang ada. Tiga minggu yang lalu, kedua orang tua tercinta melepas kembali putra kesayangannya ini di sebuah stasiun kereta api. Dengan berbekal seadanya -sedikit pakaian tanpa peralatan make-up, berkas-berkas penugasan, gadget-gadget teman setia & tak lupa kartu sakti yang konon bernama ATM itu- saya berangkat ke Bandung (masih di seputaran Indonesia kok, hehe). Lumayan naik KA Eksekutif, karena memang ada yang menanggung semua biayanya (tentu saja negara dong, kalo kantong pribadi mah bisa tekor di jalan!).
Read the rest of this entry »
Posted
in
Aku, University of Life
|
No Comments »
Sudah beberapa hari ini ibu setengah baya itu selalu terlihat di lampu merah. Bersama anaknya yang masih dalam gendongannya, ia terpaksa turun ke jalanan untuk meminta sedekah ikhlas dari para pemakai jalan. Siang itu memang sangat terik ketika saya dalam perjalanan pulang setelah menjalani rutinitas harian. Ia hampiri satu persatu pengendara motor dan mobil tanpa menggunakan alas kaki. Bisa dibayangkan panasnya telapak kaki ibu itu. Ia hanya berharap ada orang yang memberinya kepingan uang kecil. Untuk membeli susu anaknya yang masih kecil, katanya.
Sebelumnya, di tempat lain. Kami –saya bersama teman-teman kantor- sedang membicarakan keberadaan orang-orang (maaf) ‘tangan dibawah’ itu. Entah darimana asal pembicaraan ini, tapi ternyata kami terlibat dalam sebuah obrolan yang hangat tentangnya. Dan memang, keberadaan komunitas itu sedikit banyak menimbulkan dilema bagi para pemakai jalan, terutama mereka yang terbiasa dengan ‘tangan diatas’nya. Satu sisi, komunitas itu bisa membantu kita dalam bersedekah, namun di sisi lain keberadaan mereka justru menimbulkan stigma negatif di mata masyarakat karena dianggap sebagai kaum pemalas.
Read the rest of this entry »
Posted
in
Qolbutheraphy, University of Life
|
12 Comments »
Sebuah tulisan yang sangat inspiratif dan sanggup meletupkan kembali semangat ini. Sebuah tulisan yang saya haturkan kembali sebagai uneg-uneg atas ‘pesta hajatan’ negeri ini yang seakan membawa kita untuk berpikir “sebenarnya apa yang salah dengan ini semua sehingga Indonesia menjadi karut marut hampir di segala bidang dan tak berwibawa lagi?”. Wahai ummat, negeri ini bukanlah milik satu kaum saja. Inilah negeriku, Indonesia satu!
Kita boleh merasa ikhwan (ikhwanul muslimin)
Kita boleh merasa Hizbut Tahrir
Kita boleh merasa Salafi
Kita boleh merasa Muhammadiyah
Kita boleh merasa Nahdhotul Ulama
Kita boleh berbeda dalam batas-batas yang bisa ditolerir dalam Islam.
Karena kita tahu permasalahan ikhtilaf/khilafiyah, ijtihad seorang ulama mungkin benar dan mungkin salah.
Kita juga tahu bahwa kita harus menjauhi dari sikap ekstrem dalam beragama.
Untuk itu kita perlu bersatu dalam keragaman jama’ah dalam medan amal Islami dan bekerjasama dalam memperbaiki kerusakan.
Bukankah tujuan kita satu? Read the rest of this entry »
Posted
in
Qolbutheraphy
|
5 Comments »